Tadi
malam, saya makan bubur di warung sebelah. Warungnya sederhana. Gak mewah, tapi
bukan berarti kotor ya? Setahu saya warung ini sudah lama berdiri. Mungkin bisa
saja sebelum saya dijogja udah ada itu warung. Menunya cuman ada satu: bubur
kacang hijau. Bisa pilih anget atau dingin, pilih saja. Bisa minta dibungkus
atau makan ditempat, tinggal bilang aja. Makan disini cukup enak, walaupun
hilir mudik kendaraan sering terdengar.
Malam
tadi sebenarnya biasa-biasa aja. Seperti malam-malam yang lain saya juga makan
bubur disana. Makan ditempat. Alasanya selain masih panas, juga ndak perlu
nyuci mangkuk dan sendok dirumah. Saya selalu milih yang anget. Sudah jadi
kebiasaan saya. Rada alergi kalo sama yang dingin. Sepanas apapun malam dijogja
kalo disana pesanya ya; kecang ijo anget.
Tidak
butuh waktu lama untuk menanti hidangan bubur kacang ijo. Dalam sekejap
hidangan tersebut sudah tersedia di depan mata. ”Monggo mas”, kata penjual itu dengan ramah. Kusambut hadirnya bubur
panas itu dengan sangat senang. Perlahan, kunikmati sajian kacang ijo yang
masih panas itu. Sedikit demi sedikit kusruput
dengan hati-hati karena kacang ijo masih sangat panas. Sesekali kuedarkan
pandangan ke arah kebun yang kosong disebelahnya.
Disaat
sela-sela makan bubur, ada kejadian yang mengusik perhatian saya. Seorang anak
kecil perempuan tengah bermain-main di samping jalan. Saya sebetulnya merespon
ini sebagai hal wajar. Karena memang, penjual itu mempunyai seorang anak
perempuan yang masih kecil. Namun yang menarik perhatian saya bukan pada anak
kecil itu. Bukan. Melainkan orang yang mengajak bermain sang bocah. Saat si
anak tengah bermain-main di pinggir jalan ternyata, seorang tukang parkir yang
tengah mengajaknya bermain. Sejenak saya cukup kaget. Seharusnya lagi-lagi biasa
aja. Cuman yang membuat agak ganjil adalah kenapa harus bermain dengan orang
lain? Disaat kedua orangtua si bocah tengah lengang tidak ada pelanggan. Seharusnya
itu jadi kesempatan emas buat mengajak main si anak. Jadi bisa bermain bertiga
gitu. Karena jujur saja, jika warung penuh, mereka berdua (ayah dan ibu si
bocah) bergotong royong melayani pembeli. Jika saat sedang rehat, malah
digunakan untuk bertatap muka dengan hp
atau gadget yang mereka punya. Akhirnya
jika orang awam memperhatikan (termasuk saya) akan cukup kaget mengira kalo si
anak ”seringnya” main dengan orang lain, atau kalo lebih parahnya lagi, malah
bermain sendirian padahal itu juga tidak sepenuhnya benar. Kemudian si ibu dari
kejauhan hanya berteriak untuk memerintah anak kembali ke-peraduannya. Itu dilakukan
dengan setengah berteriak. Iya memang ”setengah” berteriak karena, lokasi
warung yang dekat dengan jalan raya membuat kita harus meninggikan suara ketika
berbicara agar suara kita tidak kalah dengan deruan mesin dijalan.
Sebetulnya
yang ingin saya sampaikan sangatlah sederhana. Jika memang ada kesempatan
gunakan dengan baik. Jika punya waktu luang disela-sela berkerja, sempatkanlah
bermain dengan anak. Ini sangat jarang lho! Bandingkan dengan orang yang
kerjanya kantoran. Pergi pagi, pulang petang. Mana ada kesempatan buat main
sama anak. Saat pulang udah capek. Anak juga biasanya karena sudah cukup larut,
sudah tidur duluan. Sesekali juga boleh dan sah-sah saja jika anak bermain
dengan tetangga, atau dengan teman kerja, nggak masalah. Bahkan pula sesekali
berinteraksi dan bersosialisasi dengan tetangga, itu juga merupakan hal yang
lumrah. Yang jelas ada kesempatan kita gunakan. Pendidikan untuk anak itu
sangat menyeluruh. Sangat kompleks. Apalagi si anak masih di bawah usia pra-sekolah maka anak akan sangat butuh
perhatian serta pendidikan moral dari orang tuanya. Semoga kita semua bisa
menjadi orang yang dapat memanfaatkan waktu dengan bijak, serta tidak
menyia-nyiakan kesempatan. Salam![]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar