Senin, 10 November 2014

Anakku main sama siapa?

Tadi malam, saya makan bubur di warung sebelah. Warungnya sederhana. Gak mewah, tapi bukan berarti kotor ya? Setahu saya warung ini sudah lama berdiri. Mungkin bisa saja sebelum saya dijogja udah ada itu warung. Menunya cuman ada satu: bubur kacang hijau. Bisa pilih anget atau dingin, pilih saja. Bisa minta dibungkus atau makan ditempat, tinggal bilang aja. Makan disini cukup enak, walaupun hilir mudik kendaraan sering terdengar.
Malam tadi sebenarnya biasa-biasa aja. Seperti malam-malam yang lain saya juga makan bubur disana. Makan ditempat. Alasanya selain masih panas, juga ndak perlu nyuci mangkuk dan sendok dirumah. Saya selalu milih yang anget. Sudah jadi kebiasaan saya. Rada alergi kalo sama yang dingin. Sepanas apapun malam dijogja kalo disana pesanya ya; kecang ijo anget.

Tidak butuh waktu lama untuk menanti hidangan bubur kacang ijo. Dalam sekejap hidangan tersebut sudah tersedia di depan mata. ”Monggo mas”, kata penjual itu dengan ramah. Kusambut hadirnya bubur panas itu dengan sangat senang. Perlahan, kunikmati sajian kacang ijo yang masih panas itu. Sedikit demi sedikit kusruput dengan hati-hati karena kacang ijo masih sangat panas. Sesekali kuedarkan pandangan ke arah kebun yang kosong disebelahnya.
Disaat sela-sela makan bubur, ada kejadian yang mengusik perhatian saya. Seorang anak kecil perempuan tengah bermain-main di samping jalan. Saya sebetulnya merespon ini sebagai hal wajar. Karena memang, penjual itu mempunyai seorang anak perempuan yang masih kecil. Namun yang menarik perhatian saya bukan pada anak kecil itu. Bukan. Melainkan orang yang mengajak bermain sang bocah. Saat si anak tengah bermain-main di pinggir jalan ternyata, seorang tukang parkir yang tengah mengajaknya bermain. Sejenak saya cukup kaget. Seharusnya lagi-lagi biasa aja. Cuman yang membuat agak ganjil adalah kenapa harus bermain dengan orang lain? Disaat kedua orangtua si bocah tengah lengang tidak ada pelanggan. Seharusnya itu jadi kesempatan emas buat mengajak main si anak. Jadi bisa bermain bertiga gitu. Karena jujur saja, jika warung penuh, mereka berdua (ayah dan ibu si bocah) bergotong royong melayani pembeli. Jika saat sedang rehat, malah digunakan untuk bertatap muka dengan hp atau gadget yang mereka punya. Akhirnya jika orang awam memperhatikan (termasuk saya) akan cukup kaget mengira kalo si anak ”seringnya” main dengan orang lain, atau kalo lebih parahnya lagi, malah bermain sendirian padahal itu juga tidak sepenuhnya benar. Kemudian si ibu dari kejauhan hanya berteriak untuk memerintah anak kembali ke-peraduannya. Itu dilakukan dengan setengah berteriak. Iya memang ”setengah” berteriak karena, lokasi warung yang dekat dengan jalan raya membuat kita harus meninggikan suara ketika berbicara agar suara kita tidak kalah dengan deruan mesin dijalan.
Sebetulnya yang ingin saya sampaikan sangatlah sederhana. Jika memang ada kesempatan gunakan dengan baik. Jika punya waktu luang disela-sela berkerja, sempatkanlah bermain dengan anak. Ini sangat jarang lho! Bandingkan dengan orang yang kerjanya kantoran. Pergi pagi, pulang petang. Mana ada kesempatan buat main sama anak. Saat pulang udah capek. Anak juga biasanya karena sudah cukup larut, sudah tidur duluan. Sesekali juga boleh dan sah-sah saja jika anak bermain dengan tetangga, atau dengan teman kerja, nggak masalah. Bahkan pula sesekali berinteraksi dan bersosialisasi dengan tetangga, itu juga merupakan hal yang lumrah. Yang jelas ada kesempatan kita gunakan. Pendidikan untuk anak itu sangat menyeluruh. Sangat kompleks. Apalagi si anak masih di bawah usia pra-sekolah maka anak akan sangat butuh perhatian serta pendidikan moral dari orang tuanya. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang dapat memanfaatkan waktu dengan bijak, serta tidak menyia-nyiakan kesempatan. Salam![]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar