Rabu, 07 Januari 2015

Menjadi Pria gunung (sejati): Wood Job – (2014)

Hal menyenangkan apa yang dapat kita lakukan setiap hari? Jawabanya: pekerjaan. Setiap hari semua orang akan disibukkan
dengan rutinitas. Demi menyambung hidup (baca: makan, dan minum) manusia melakukan banyak cara agar bisa bertahan hidup dengan baik. Banyak yang tidak sadar akan kegiatan mereka. Selama ini banyak yang telah terjebak sehingga melupakan betapa nikmatnya bisa menikmati pekerjaan yang sedang dilakukan.
Sehingga perlu sekali untuk merefleksi kembali. Apakah kita menikmati yang kita lakukan? Ataukah kita melakukanya hanya untuk kepentingan ”melanjutkan hidup” saja? Dari film ini kita bisa belajar dari Yuki. Disini digambarkan Yuki adalah lulusan SMA yang tidak memiliki cita-cita. Waktunya banyak dihabiskan untuk bermain saja. Namun setelah pengumuman kelulusan SMA Yuki merasa senang sekaligus sedih. Tentu saja senang karena dia berhasil lulus. Merasa sedih karena pacarnya meninggalkanya. Hal itu lantaran Yuki tidak memiliki cita-cita masa depan.
Bimbang dengan keadaan itu Yuki juga tidak lantas mendaftar di perguruan tinggi. Teman-temanya memilih dan mendaftar di perguruan tinggi pilihan mereka. Saat Yuki sedang berjalan gontai menuju rumahnya, dia melihat sederetan majalah berisi informasi pekerjaan. Kemudian, dengan sangat ajaib dia menemukan sebuah majalah yang menarik, tentang pekerjaan. Sebe-tulnya bukan murni atas dorongan jiwa. Yuki menyukainya karena sangat tertarik dengan gadis sampul yang ada di front cover majalah tersebut. Foto gadis itu terpajang disampul depan majalah itu dengan sangat baik. Senyumnya di foto itu membuat Yuki jatuh hati. Tanpa berfikir panjang lagi, Yuki langsung mendaftar. Keinginanya adalah agar dia bisa dekat dengan gadis yang ada di sampul foto tersebut.
Saat diberitahu oleh Yuki orangtuanya seolah tidak percaya. Mereka mempertanyakan keputusannya. Kalau memang berkerja, mengapa harus menjadi pemotong kayu di hutan? Dengan santai Yuki mengatakan inilah pekerjaan laki-laki, ini bagus untuk alam. Padahal kata-katanya itu adalah jawaban sekenanya saja. Dia sudah terbuai oleh angan-anganya sendiri. Yang dibayangkanya adalah bisa dekat dengan gadis pujaanya itu. Lagi-lagi cinta mengambil peran besar dalam kasus ini. Cinta Yuki sangat-sangat tidak berlandaskan pemahaman yang baik. Hanya melihat sekilas melalui foto saja sudah terpana. Patah hati pada kisah sebelumnya membuat si Yuki semakin tak sabar untuk bertemu dengan gadis itu. Perjalanan yang panjang pun ditempuhnya. Tentunya tidak mudah mencapai kawasan hutang yang menjadi tujuanya. Namun sangat beruntung sekali, bahwa walaupun disana jalanya sangat jauh, tetap ada saja kendaraan umum yang bisa dipakai untuk menuju kesana.
Sebetulnya Yuki tidak langsung berkerja. Disana ia di-training selama setahun lebih dulu. Sifat dari kegiatan training itu juga tidaklah mengikat. Karena kapan saja dia mau, Yuki bisa menyatakan mengundurkan diri. Dan kemudian bisa kembali ke kota, menjalani kehidun aslinya. Hari pertama pelatihan itu, Yuki sudah menunjukkan sifat aslinya. Dia sangat pemalas dan orangnya suka bercanda. Hal itu juga yang membuat salah satu instruktur pelatih menjadi sangat marah kepadanya. Di hari yang sama pula Yuki langsung bertanya kepada instrukturnya mengenai gadis yang ada di halaman sampul majalah itu. Dengan enteng instruktur Yuki mengatakan gadis itu hanyalah model sampul saja. Perempuan itu bukan bagian dari instruktur atawa tim pelatihan ini. Sekejap hatinya bengong. Pupus sudah harapanya untuk bertemu dengan gadis pujaanya itu.
Tak lama setelah peristiwa itu Yuki memantapkan diri untuk berhenti. Dia merasa pekerjaan ini sungguh tidak cocok untuknya. Namun, apakah Yuki benar-benar berhenti dari pe-latihan itu? Lalu bagaimana caranya agar Yuki bisa bertemu dengan gadis bernama Naomi itu. Yang kemudian diketahuinya adalah orang yang berada di balik cover depan majalah itu? Dalam film ini akan kita akan disuguhi konflik batin antara Yuki dengan dirinya sendiri. Dari awal memang dia berniat mengikuti pelatihan ini hanya untuk bertemu dengan Naomi. Namus perlahan dirinya sadar. Malalui peristiwa-peristiwa sederhana yang dia alami di pelatihan tersebut, Yuki perlahan faham. Bahwa berkerja bukan saja hanya ”rutin” melakukan kegiatan yang monoton, itu-itu saja. Lebih dari itu, dia bisa merasakan bahwa kita seharusnya menikmati apa yang kita kerjakan.
Akhir dari film ini memang terkesan bisa ditebak. Alur cerita yang disajikan memang tergolong mudah dimengerti. Selalu berjalan maju kemudian mundur teratur. Nah, apakah Yuki berhasil menyelesaikan pelatihan itu dan menjalani masa-masa magang di desa selama 365 hari dengan baik? Apakah Yuki bisa berkenalan dengan Naomi dan merebut hatinya? Saksikan saja film (wood job) ini. Semoga terhibur dan bermanfaat.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar