Hal menyenangkan apa yang dapat kita
lakukan setiap hari? Jawabanya: pekerjaan. Setiap hari semua orang akan
disibukkan
dengan rutinitas. Demi menyambung hidup (baca: makan, dan minum)
manusia melakukan banyak cara agar bisa bertahan hidup dengan baik. Banyak yang
tidak sadar akan kegiatan mereka. Selama ini banyak yang telah terjebak
sehingga melupakan betapa nikmatnya bisa menikmati pekerjaan yang sedang
dilakukan.
Sehingga perlu sekali untuk merefleksi
kembali. Apakah kita menikmati yang kita lakukan? Ataukah kita melakukanya
hanya untuk kepentingan ”melanjutkan hidup” saja? Dari film ini kita bisa
belajar dari Yuki. Disini digambarkan Yuki adalah lulusan SMA yang tidak
memiliki cita-cita. Waktunya banyak dihabiskan untuk bermain saja. Namun
setelah pengumuman kelulusan SMA Yuki merasa senang sekaligus sedih. Tentu saja
senang karena dia berhasil lulus. Merasa sedih karena pacarnya meninggalkanya.
Hal itu lantaran Yuki tidak memiliki cita-cita masa depan.
Bimbang dengan keadaan itu Yuki juga
tidak lantas mendaftar di perguruan tinggi. Teman-temanya memilih dan mendaftar
di perguruan tinggi pilihan mereka. Saat Yuki sedang berjalan gontai menuju
rumahnya, dia melihat sederetan majalah berisi informasi pekerjaan. Kemudian,
dengan sangat ajaib dia menemukan sebuah majalah yang menarik, tentang
pekerjaan. Sebe-tulnya bukan murni atas dorongan jiwa. Yuki menyukainya karena
sangat tertarik dengan gadis sampul yang ada di front cover majalah tersebut. Foto
gadis itu terpajang disampul depan majalah itu dengan sangat baik. Senyumnya di
foto itu membuat Yuki jatuh hati. Tanpa berfikir panjang lagi, Yuki langsung
mendaftar. Keinginanya adalah agar dia bisa dekat dengan gadis yang ada di
sampul foto tersebut.
Saat diberitahu oleh Yuki orangtuanya
seolah tidak percaya. Mereka mempertanyakan keputusannya. Kalau memang
berkerja, mengapa harus menjadi pemotong kayu di hutan? Dengan santai Yuki
mengatakan inilah pekerjaan laki-laki, ini bagus untuk alam. Padahal
kata-katanya itu adalah jawaban sekenanya saja. Dia sudah terbuai oleh
angan-anganya sendiri. Yang dibayangkanya adalah bisa dekat dengan gadis
pujaanya itu. Lagi-lagi cinta mengambil peran besar dalam kasus ini. Cinta Yuki
sangat-sangat tidak berlandaskan pemahaman yang baik. Hanya melihat sekilas
melalui foto saja sudah terpana. Patah hati pada kisah sebelumnya membuat si
Yuki semakin tak sabar untuk bertemu dengan gadis itu. Perjalanan yang panjang
pun ditempuhnya. Tentunya tidak mudah mencapai kawasan hutang yang menjadi
tujuanya. Namun sangat beruntung sekali, bahwa walaupun disana jalanya sangat
jauh, tetap ada saja kendaraan umum yang bisa dipakai untuk menuju kesana.
Sebetulnya Yuki tidak langsung berkerja.
Disana ia di-training selama setahun
lebih dulu. Sifat dari kegiatan training itu juga tidaklah mengikat. Karena
kapan saja dia mau, Yuki bisa menyatakan mengundurkan diri. Dan kemudian bisa
kembali ke kota, menjalani kehidun aslinya. Hari pertama pelatihan itu, Yuki
sudah menunjukkan sifat aslinya. Dia sangat pemalas dan orangnya suka bercanda.
Hal itu juga yang membuat salah satu instruktur pelatih menjadi sangat marah
kepadanya. Di hari yang sama pula Yuki langsung bertanya kepada instrukturnya
mengenai gadis yang ada di halaman sampul majalah itu. Dengan enteng instruktur
Yuki mengatakan gadis itu hanyalah model sampul saja. Perempuan itu bukan
bagian dari instruktur atawa tim pelatihan ini. Sekejap hatinya bengong. Pupus
sudah harapanya untuk bertemu dengan gadis pujaanya itu.
Tak lama setelah peristiwa itu Yuki
memantapkan diri untuk berhenti. Dia merasa pekerjaan ini sungguh tidak cocok
untuknya. Namun, apakah Yuki benar-benar berhenti dari pe-latihan itu? Lalu
bagaimana caranya agar Yuki bisa bertemu dengan gadis bernama Naomi itu. Yang
kemudian diketahuinya adalah orang yang berada di balik cover depan majalah
itu? Dalam film ini akan kita akan disuguhi konflik batin antara Yuki dengan
dirinya sendiri. Dari awal memang dia berniat mengikuti pelatihan ini hanya
untuk bertemu dengan Naomi. Namus perlahan dirinya sadar. Malalui
peristiwa-peristiwa sederhana yang dia alami di pelatihan tersebut, Yuki
perlahan faham. Bahwa berkerja bukan saja hanya ”rutin” melakukan kegiatan yang
monoton, itu-itu saja. Lebih dari itu, dia bisa merasakan bahwa kita seharusnya
menikmati apa yang kita kerjakan.
Akhir dari film ini memang terkesan bisa ditebak. Alur cerita yang disajikan memang tergolong mudah dimengerti. Selalu berjalan maju kemudian mundur teratur. Nah, apakah Yuki berhasil menyelesaikan pelatihan itu dan menjalani masa-masa magang di desa selama 365 hari dengan baik? Apakah Yuki bisa berkenalan dengan Naomi dan merebut hatinya? Saksikan saja film (wood job) ini. Semoga terhibur dan bermanfaat.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar