![]() |
| Dari Kiri ke kanan (atas): Arief, Risman, Arfian, Mbak Yeni, Mbak Nurul, Natiq, Burhan. Dari Kiri ke kanan (bawah): Zulhazzi, Mas Ahmad |
Namun, perjalanan tetap di lanjutkan. Kami berkendara dari kampus yang menjadi titik kumpul menuju kalibawang. Perjalanan terasa lama, kami melewati jalan yang cukup memutar. Padahal kalo menurut saya, kita bisa saja lewat ring road barat, godean, minggir dan kemudian ke kulon progo. Gak usah muter-muter kayak tadi. Ya… gapapalah jadi hiburan aja, sembari mengendarai sepeda motor sendirian, dinikmati aja suasana pematang sawah dan alam desa yang membentang. Sewaktu berangkat memang belum begitu tersa panas. Namun, setelah mendekati lokasi acara festival, ternyata makin panas. Akurapopo menyenangkan banget, apalagi kalau kita tengok plat kendaraan masing-masing maka, bisa dilihat gak cumin dari jogja saja. Pengunjung festival ini bisa dari berbagai kota di seluruh negri ini. Parkiran kendaraan menjadi sangat ramai. Ratusan lebih kendaraan dari roda dua sampai yang roda empat memenuhi lahan parker yang ternyata masih di kompleks pekarangan rumah warga sekitar. Dengan ramah dan cekatan, kami di bantu oleh warga untuk memarkirkan kendaraan masing-masing.
Masuk di festival,
sudah banyak orang bergumul disana. Saat kami sampai disana, festival sudah
dimulai. Banyak penjual durian disana. Ingin rasanya mencicipi satu per satu,
dari stand yang ada ,hHehe. Tapi gak mungkin kayak gitu kan, kalo semua orang
kaya guitu gak ada yang beli donk hm… di acara festival ini rupanya ada juga
produk di luar durian. Kulihat ada beberapa makanan khas disana. Bahkan, boleh
percaya atau tidak disana juga ada yang jualan petai. Iya,petai fresh from the village
,hHahaha. Ada juga penjual yang menawarkan ice cream. Ternyata macam-macam juga
produknya. Ada rasa vanilla, coklat dan yang gak kalah adalah rasa durian. Mumpung
di festival durian pilihan jatuh di rasa itu, tapi nanti kita akan membeli ice
cream yang lembut itu sewaktu akan pulang.
Nyari durian
bareng-bareng. Gerumul-gerumul kita ikut dalam puluhan orang yang ikut berjongkok
di salah satu stand. Beruntung sebagian besar stand durian di bawah atap seng
yang teduh. Jadi, kita bisa memilih durian dengan tenang tanpa khawatir akan
kepanasan. Tapi tetep harus rela berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Wehhh,
ternyata tanya harga durian gak bayar, nyobain durian juga gak bayar ,hHuahaha.
Merdeka ria kita disana. Gak kenal orang-orang itu, membuat muka ini semakin
luluasa tengok kanan-kiri sesuai keinginan. Kalo di penjual durian pinggir
jalan mah pasti malu kan, udah tanya-tanya ngobrol lama pulak, pada akhirnya kau
bilang “hm… makasih ya buk, gak jadi beli duriannya,” wakaka. Siap-siap aja
menghindari lemparan durian dari itu ibuk-ibuk ,hHehe.
Ketika pilihan
telah ditetapkan dan proses pembayaran telah rampung, tiba saatnya yang di tunggu-tunggu.
Salah seorang di antara kami berkesempatan emas untuk “membelah durian”, (baca:
membuka durian – arti sebenarnya). Ketika terdengar bunyi krek.. krek… dari
buah itu, aroma yang wangi dari buah tersebut langsung tercium di hidung. Tidak
usah di persilahkan untuk mengambil buah yang satu ini. Setiap mata sudah lihai
dalam mengincar buah yang satu ini. Kemudian informasi dari mata tersebut di
teruskan ke otak dan otak memerintahkan tangan untuk bergerak capat-secepat
kilatan petir yang menyambar. Belum satu buah habis dimakan, tangan yang lain
sudah mengamankan buah lagi. Begitu seterusnya. Setiap orang sangat antusias
dengan buah durian ini. Jika sudah habis buah di tangan, maka menjilati tangan
yang masih belepotan oleh durian merupakan sebuah kewajban. Jika buah yang
dibeli sudah habis, maka kita jalan lagi dan berburu durian yang lain.
Tidak perlu waktu
lama, setelah berkeliling sebentar akhirnya, pilihan jatuh di stand luar
pameran. Tepatnya di dalam mobil bak terbuka yang baru saja datang. Dari pilihan
awal sampai jatuh pilihan yang kedua ini, harga yang kami dapat-pun bermacam-macam. Prinsipnya: pilih
buah yang di inginkan terus tanya aja berapa harganya. Jika sudah cocok maka,
bisa deal. Namun jika belum, bisa aja kita menawar, sampai tercapai harga yang
di sepakati. Kalau masih bingung, buah mana yang bagus, bisa tanya dengan
penjualnya langsung. Disana Insyaa Allah penjualnya jujur-jujur. Mereka dengan
senang hati memberitahu kondisi buah yang kita tanyakan. Jika sudah nyicip
kabur? Ya… gak gitu juga. Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, jika semua
pembeli seperti ini, lah… siapa yag mau beli? Sebetulnya nyicip pun, ada
etikanya. Jika sudah di buka durian bawahnya maka, kita hanya bisa mencolek
buah tersebut dan mencicipinya. Beda cerita kalo kita malah ditawarin nyoba
satu biji. Itu mah… rejaki anda. Bisa juga minta satu biji baik-baik. Tapi yo
nek bisa dibeli… jangan di tinggal kabur.
Oke, setelah
pilihan kedua deal dan tentunya dibayar, maka langkah strategis selanjutnya
adalah membawa kabur buah itu ke tempat yang teduh. Tak jauh membayangkan
tempat itu, karena pilihan kita jatuh di tempat dekat mobil terbuka tadi,
tentunya dengan naungan pohon yang rindang. Disini kita belah duren lebih
banyak dari pilihan pertama. Kali ini, durianya cukup bervariasi. Rasanya ada
yang rada pahit, ada yang manis, ada pula yang sangat lembut. Yaa… namanya juga
buah-buahan kita hanya bisa prediksi akan rasanya. Kemudian jawaban akan
prediksi tersebut muncul saat kita memakannya. Makan durian bisa menyenangkan
karena hal itu juga. Saat kita prediksi buah itu lembut dan ketika dinikmati
ternyata prediksi kita tapat. Maka, kepuasan batin akan kita dapatkan. Dan itu
yang dicari orang. Bisa mendapatkan buah durian dengam harga yang murah,
prediksi yang presisi, serta dinikmati ramai-ramai merupakan kenikmatan
tersendiri. Tidak ketinggalan beberapa foto selfie kami ambil sebagai
kenag-kenangan. Ada juga yang kelewat narsis disana, akurapopo. Yang penting
teman-teman semua senang dan ndak ada yang di rugikan. Tidak lupa kita juga
berfoto ramai-ramai di atas spanduk acara festival. Rasanya senag sekali kita
bisa berfoto disana.
Pukul 11.35 ternyata tidak menyurutkan minat orang-orang untuk datang ke festival ini. Buktinya ketika pulang, di sederet jalan masih terdapat rombongan kendaraan yang melawan arus kami. Tetu saja, jika kami keluar, berarti mereka masuk kan? Area stand juga masih saja di padati oleh pengunjung. Festival sangat ramai. Tepatnya pukul berapa festival ini akan berakhir, saya juga tidak tahu. Dari kulon progo, menyusuri jalan menurun ke yogkakarta merupakan tantangan juga. Cuaca panas siang itu, sudah menyengat permukaan pori-pori kulit. Jalan menurun membuat kami berhati-hati dalam berkendara. Kami pulang melewati jalan dimana kami berangkat tadi. Sebelum benar-benar kembali ke FE sebagai titik awal tadi kami menyempatkan diri singgah di grobak es buah pinggir jalan. Siang yang terik memang terasa segar jika meminum semangkuk es buah di sertai susu cair diatasnya. Setelah menghabiskan es buah kami, perjalanan pun di lanjutkan. Kali ini kami, benar-benar menuju FE. Lokasi akhir perjalanan kami. Entah kapan lagi ada festival serupa seperti ini lagi. Saya tidak tahu. Saya juga tidak tahu, jika memang ada di lain waktu, bisa ikut atau tidak. Tapi, jika memang ada lagi, saya berharap bisa ikut dan menikmati kebersamaan (lagi) seperti ini.[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar