Minggu, 02 Maret 2014

Festival Durian (1)

 Sangat menyenangkan bisa berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai minat yang sama. Pada awalnya berita bahwa akan di adakannya festival ini masih belum jelas. Yang jelas saya tahu info ini dari teman saja. Dan teman yang itu tadi juga tahu dari teman yang lain. Sehingga, minat untuk ikut tentu saja ada, tapi rasa khawatir akan kepalsuan berita ini juga ada. Pagi ini matahari masih terlihat belum sempurna. Namun, tanda-tanda yang muncul masing fifty-fifty. Karena disamping matahari yang mencoba menyinari terdapat awan yang membayang-bayangi.

Dari Kiri ke kanan (atas):
Arief, Risman, Arfian, Mbak Yeni, Mbak Nurul, Natiq, Burhan.
Dari Kiri ke kanan (bawah):
Zulhazzi, Mas Ahmad


Namun, perjalanan tetap di lanjutkan. Kami berkendara dari kampus yang menjadi titik kumpul menuju kalibawang. Perjalanan terasa lama, kami melewati jalan yang cukup memutar. Padahal kalo menurut saya, kita bisa saja lewat ring road barat, godean, minggir dan kemudian ke kulon progo. Gak usah muter-muter kayak tadi. Ya… gapapalah jadi hiburan aja, sembari mengendarai sepeda motor sendirian, dinikmati aja suasana pematang sawah dan alam desa yang membentang. Sewaktu berangkat memang belum begitu tersa panas. Namun, setelah mendekati lokasi acara festival, ternyata makin panas. Akurapopo menyenangkan banget, apalagi kalau kita tengok plat kendaraan masing-masing maka, bisa dilihat gak cumin dari jogja saja. Pengunjung festival ini bisa dari berbagai kota di seluruh negri ini. Parkiran kendaraan menjadi sangat ramai. Ratusan lebih kendaraan dari roda dua sampai yang roda empat memenuhi lahan parker yang ternyata masih di kompleks pekarangan rumah warga sekitar. Dengan ramah dan cekatan, kami di bantu oleh warga untuk memarkirkan kendaraan masing-masing.

Masuk di festival, sudah banyak orang bergumul disana. Saat kami sampai disana, festival sudah dimulai. Banyak penjual durian disana. Ingin rasanya mencicipi satu per satu, dari stand yang ada ,hHehe. Tapi gak mungkin kayak gitu kan, kalo semua orang kaya guitu gak ada yang beli donk hm… di acara festival ini rupanya ada juga produk di luar durian. Kulihat ada beberapa makanan khas disana. Bahkan, boleh percaya atau tidak disana juga ada yang jualan petai. Iya,petai fresh from the village ,hHahaha. Ada juga penjual yang menawarkan ice cream. Ternyata macam-macam juga produknya. Ada rasa vanilla, coklat dan yang gak kalah adalah rasa durian. Mumpung di festival durian pilihan jatuh di rasa itu, tapi nanti kita akan membeli ice cream yang lembut itu sewaktu akan pulang.

Nyari durian bareng-bareng. Gerumul-gerumul kita ikut dalam puluhan orang yang ikut berjongkok di salah satu stand. Beruntung sebagian besar stand durian di bawah atap seng yang teduh. Jadi, kita bisa memilih durian dengan tenang tanpa khawatir akan kepanasan. Tapi tetep harus rela berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Wehhh, ternyata tanya harga durian gak bayar, nyobain durian juga gak bayar ,hHuahaha. Merdeka ria kita disana. Gak kenal orang-orang itu, membuat muka ini semakin luluasa tengok kanan-kiri sesuai keinginan. Kalo di penjual durian pinggir jalan mah pasti malu kan, udah tanya-tanya ngobrol lama pulak, pada akhirnya kau bilang “hm… makasih ya buk, gak jadi beli duriannya,” wakaka. Siap-siap aja menghindari lemparan durian dari itu ibuk-ibuk ,hHehe.

Ketika pilihan telah ditetapkan dan proses pembayaran telah rampung, tiba saatnya yang di tunggu-tunggu. Salah seorang di antara kami berkesempatan emas untuk “membelah durian”, (baca: membuka durian – arti sebenarnya). Ketika terdengar bunyi krek.. krek… dari buah itu, aroma yang wangi dari buah tersebut langsung tercium di hidung. Tidak usah di persilahkan untuk mengambil buah yang satu ini. Setiap mata sudah lihai dalam mengincar buah yang satu ini. Kemudian informasi dari mata tersebut di teruskan ke otak dan otak memerintahkan tangan untuk bergerak capat-secepat kilatan petir yang menyambar. Belum satu buah habis dimakan, tangan yang lain sudah mengamankan buah lagi. Begitu seterusnya. Setiap orang sangat antusias dengan buah durian ini. Jika sudah habis buah di tangan, maka menjilati tangan yang masih belepotan oleh durian merupakan sebuah kewajban. Jika buah yang dibeli sudah habis, maka kita jalan lagi dan berburu durian yang lain.

Tidak perlu waktu lama, setelah berkeliling sebentar akhirnya, pilihan jatuh di stand luar pameran. Tepatnya di dalam mobil bak terbuka yang baru saja datang. Dari pilihan awal sampai jatuh pilihan yang kedua ini, harga yang kami dapat-pun bermacam-macam. Prinsipnya: pilih buah yang di inginkan terus tanya aja berapa harganya. Jika sudah cocok maka, bisa deal. Namun jika belum, bisa aja kita menawar, sampai tercapai harga yang di sepakati. Kalau masih bingung, buah mana yang bagus, bisa tanya dengan penjualnya langsung. Disana Insyaa Allah penjualnya jujur-jujur. Mereka dengan senang hati memberitahu kondisi buah yang kita tanyakan. Jika sudah nyicip kabur? Ya… gak gitu juga. Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, jika semua pembeli seperti ini, lah… siapa yag mau beli? Sebetulnya nyicip pun, ada etikanya. Jika sudah di buka durian bawahnya maka, kita hanya bisa mencolek buah tersebut dan mencicipinya. Beda cerita kalo kita malah ditawarin nyoba satu biji. Itu mah… rejaki anda. Bisa juga minta satu biji baik-baik. Tapi yo nek bisa dibeli… jangan di tinggal kabur.

Oke, setelah pilihan kedua deal dan tentunya dibayar, maka langkah strategis selanjutnya adalah membawa kabur buah itu ke tempat yang teduh. Tak jauh membayangkan tempat itu, karena pilihan kita jatuh di tempat dekat mobil terbuka tadi, tentunya dengan naungan pohon yang rindang. Disini kita belah duren lebih banyak dari pilihan pertama. Kali ini, durianya cukup bervariasi. Rasanya ada yang rada pahit, ada yang manis, ada pula yang sangat lembut. Yaa… namanya juga buah-buahan kita hanya bisa prediksi akan rasanya. Kemudian jawaban akan prediksi tersebut muncul saat kita memakannya. Makan durian bisa menyenangkan karena hal itu juga. Saat kita prediksi buah itu lembut dan ketika dinikmati ternyata prediksi kita tapat. Maka, kepuasan batin akan kita dapatkan. Dan itu yang dicari orang. Bisa mendapatkan buah durian dengam harga yang murah, prediksi yang presisi, serta dinikmati ramai-ramai merupakan kenikmatan tersendiri. Tidak ketinggalan beberapa foto selfie kami ambil sebagai kenag-kenangan. Ada juga yang kelewat narsis disana, akurapopo. Yang penting teman-teman semua senang dan ndak ada yang di rugikan. Tidak lupa kita juga berfoto ramai-ramai di atas spanduk acara festival. Rasanya senag sekali kita bisa berfoto disana.

Pukul 11.35 ternyata tidak menyurutkan minat orang-orang untuk datang ke festival ini. Buktinya ketika pulang, di sederet jalan masih terdapat rombongan kendaraan yang melawan arus kami. Tetu saja, jika kami keluar, berarti mereka masuk kan? Area stand juga masih saja di padati oleh pengunjung. Festival sangat ramai. Tepatnya pukul berapa festival ini akan berakhir, saya juga tidak tahu. Dari kulon progo, menyusuri jalan menurun ke yogkakarta merupakan tantangan juga. Cuaca panas siang itu, sudah menyengat permukaan pori-pori kulit. Jalan menurun membuat kami berhati-hati dalam berkendara. Kami pulang melewati jalan dimana kami berangkat tadi. Sebelum benar-benar kembali ke FE sebagai titik awal tadi kami menyempatkan diri singgah di grobak es buah pinggir jalan. Siang yang terik memang terasa segar jika meminum semangkuk es buah di sertai susu cair diatasnya. Setelah menghabiskan es buah kami, perjalanan pun di lanjutkan. Kali ini kami, benar-benar menuju FE. Lokasi akhir perjalanan kami. Entah kapan lagi ada festival serupa seperti ini lagi. Saya tidak tahu. Saya juga tidak tahu, jika memang ada di lain waktu, bisa ikut atau tidak. Tapi, jika memang ada lagi, saya berharap bisa ikut dan menikmati kebersamaan (lagi) seperti ini.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar