Minggu, 12 Oktober 2014

Otto Beisheim

Menyusul. Maaf kemarin nyusul. Jadi ceritanya begini. Saya sedang mencari sekolah untuk jenjang magister. Begitu banyak pilihan dan benar-benar sangat beragam. Kalau rencana, saya ingin sekali belajar tentang strategy. Iya, saat ini yang masih lengket dan sangat tertarik adalah hal itu. Kalau ditanya kenapa memilih strategy, jawabanya susah. Gimana ya? Memang basic saya yang paling basic adalah accounting.
Banyak kaitanya dengan keuangan. Kalau di dalam kelas-kelas sering kita mengatasnamakan diri sebagai partner pengambilan keputusan. Karena pada hakekatnya, accounting memang ” sering” disandingkan dengan pihak direksi atau bahkan Dewan komisaris. Bukan berarti jajaran penting yang saya sebutkan tadi tidak bisa baca laporan keuangan namun di luar hal itu, seorang accountant lebih jauh akan diajak untuk berdiskusi mengenai prospek (baik: pertumbuhan maupun perkembangan) perusahaan/organisasi di masa yang akan mendatang. Mereka, maksudnya: para akuntan juga bisa diajak membaca arah keuangan perusahaan dalam menghadapi tantangan ekonomi mendatang. Ini jelas sangat luar biasa sekali. Melalui kefahaman yang baik akan laporan keuangan, seorang accountant bisa memprediksi fenomena-fenomena yang akan dialami perusahaan.
Jadi lebih dan bisa banyak kurangnya seperti itu. Nah, berarti jika kita jadi partner dalam pengambilan keputusan maka, kita sebaiknya juga banyak memahami akan hal yang berkaitan dengan strategy. Ini mencakup sebuah strategy perusahaan yang luas dan kasusnya lebih kompleks. Saya juga mikir-mikir apa ndak berlebihan ya, seorang accountant harus belajar khusus untuk menjalankan profesinya. Disini pula, harusnya kita berfikir tentang orientasi. Masalahnya begini. Saat awal kuliah dulu. Iya duluu itu, niat kita buat ambil jurusan accounting itu buat apa sih? Mau ngapain sih? Terus manfaatnya apa? Kalo diteruskan bisa panjang sampe ratusan halaman tuh. Paling tidak tiga itu saja dulu. Buat apa, ngapain, terus manfaatnya buat kita sendiri, terlebih juga buat lingkungan sekitar. Kalau agak lebih jelasnya tentang ngapain itu, begini. Lebih jauh adalah ngapain sih, dengan cita-cita kamu itu kamu harus jurusan atau program studi yang sekarang kamu jalani ini. Jika di ubah program studinya bisa ndak? Atau kalo lebih ekstrim lagi, kita ganti univ saja, gimana? Tentunya ndak semudah itu lahh ganti Univ. saya bukan memprofokasi untuk pindah begitu saja. Ini diartikan seperti ini saja. Sekarang kita sedang belajar. Asli belajar yang serius. Nahh, walaupun, saat ini, kita memang agak berada pada jalur yang ”unik” untuk menuju cita-cita, gapapa. Jalani saja. Buktikan saja kita juga bisa survive di bidang manapun kita berada.        
            Sekarang balik ke bahasan orientasi tadi. Berarti secara sederhana, kita coba berfikir lagi. Apa yang sebetulnya menjadi cita-cita kita? Kalau yang kita harapkan adalah berkontribusi dalam bidang pendidikan misalnya: pengajar, atau dosen, maka sebaiknya mengambil jalur sekolah yang linier saja dengan bidang yang ditekuni sejak awal. Karena ini memang berpengaruh lho. Jika keilmuan yang sedang didalami itu linier maksudnya adalah sejalan, maka keahlian kita dalam bidang tersebut akan semakin matang. Berbeda halnya dengan cabang ilmu yang berbeda-beda dala setiap strata pendidikan. Memang pada dasarnya, mempunyai ilmu yan luas, namun itu belum spesifik. Kita juga butuh yang namanya, kekhususan. Keahlian yang betul-betul ahli dalam satu bidang. Memang harapanya dengan adanya hal itu, dapat memberikan kontribusi, maupun solusi yang bersifat akademis, atau kalau saya boleh sebut yaitu, scientific gitu lah.

            Berarti, salah satunya, ketika seorang lulusan teknik yang sudah bekerja dalam perusahaan beberapa tahun, maka, posisinya-pun akan naik sesuai dengan pengabdianya. Jika terjadi semacam ini, maka, perlu sekali seorang (minimal manager) mempunyai keahlian dalam bidang kepemimpinan serta pengelolaan. Dengan demikian, tidak ada salahnya, jika mengambil jurusan management. Hal ini juga senada dengan seorang entrepreneur. Mereka juga sangat layak belajar hal itu. Mau latar belakangnya memang teknik, atau bahkan keilmuan lainya yang scientific, tetap saja, usaha itu perlu di kelola dengan baik, serta perencanaan strategy yang tepat pada sasaran.
Meski belum banyak yang saya ketahui tapi arahnya mulai yakin. Iya, semakin menuju kearah yakin itu. Mengambil strata dua dengan konsentasi pada strategic. Di luar sana, banyak sekali sekolah yang menyediakan program strategic 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar