Menyusul. Maaf kemarin nyusul. Jadi ceritanya
begini. Saya sedang mencari sekolah untuk jenjang magister. Begitu banyak
pilihan dan benar-benar sangat beragam. Kalau rencana, saya ingin sekali
belajar tentang strategy. Iya, saat ini yang masih lengket dan sangat tertarik
adalah hal itu. Kalau ditanya kenapa memilih strategy, jawabanya susah. Gimana
ya? Memang basic saya yang paling basic adalah accounting.
Banyak kaitanya dengan keuangan. Kalau di dalam
kelas-kelas sering kita mengatasnamakan diri sebagai partner pengambilan keputusan. Karena pada hakekatnya, accounting
memang ” sering” disandingkan dengan pihak direksi atau bahkan Dewan komisaris.
Bukan berarti jajaran penting yang saya sebutkan tadi tidak bisa baca laporan
keuangan namun di luar hal itu, seorang accountant lebih jauh akan diajak untuk
berdiskusi mengenai prospek (baik: pertumbuhan maupun perkembangan)
perusahaan/organisasi di masa yang akan mendatang. Mereka, maksudnya: para
akuntan juga bisa diajak membaca arah keuangan perusahaan dalam menghadapi
tantangan ekonomi mendatang. Ini jelas sangat luar biasa sekali. Melalui
kefahaman yang baik akan laporan keuangan, seorang accountant bisa memprediksi
fenomena-fenomena yang akan dialami perusahaan.
Jadi lebih dan bisa banyak kurangnya seperti itu.
Nah, berarti jika kita jadi partner
dalam pengambilan keputusan maka, kita sebaiknya juga banyak memahami akan hal
yang berkaitan dengan strategy. Ini mencakup sebuah strategy perusahaan yang
luas dan kasusnya lebih kompleks. Saya juga mikir-mikir apa ndak berlebihan ya,
seorang accountant harus belajar khusus untuk menjalankan profesinya. Disini
pula, harusnya kita berfikir tentang orientasi. Masalahnya begini. Saat awal
kuliah dulu. Iya duluu itu, niat kita buat ambil jurusan accounting itu buat
apa sih? Mau ngapain sih? Terus manfaatnya apa? Kalo diteruskan bisa panjang
sampe ratusan halaman tuh. Paling tidak tiga itu saja dulu. Buat apa, ngapain,
terus manfaatnya buat kita sendiri, terlebih juga buat lingkungan sekitar.
Kalau agak lebih jelasnya tentang ngapain itu, begini. Lebih jauh adalah
ngapain sih, dengan cita-cita kamu itu kamu harus jurusan atau program studi
yang sekarang kamu jalani ini. Jika di ubah program studinya bisa ndak? Atau
kalo lebih ekstrim lagi, kita ganti univ saja, gimana? Tentunya ndak semudah
itu lahh ganti Univ. saya bukan memprofokasi untuk pindah begitu saja. Ini
diartikan seperti ini saja. Sekarang kita sedang belajar. Asli belajar yang
serius. Nahh, walaupun, saat ini, kita memang agak berada pada jalur yang
”unik” untuk menuju cita-cita, gapapa. Jalani saja. Buktikan saja kita juga
bisa survive di bidang manapun kita berada.
Sekarang
balik ke bahasan orientasi tadi. Berarti secara sederhana, kita coba berfikir
lagi. Apa yang sebetulnya menjadi cita-cita kita? Kalau yang kita harapkan
adalah berkontribusi dalam bidang pendidikan misalnya: pengajar, atau dosen,
maka sebaiknya mengambil jalur sekolah yang linier saja dengan bidang yang
ditekuni sejak awal. Karena ini memang berpengaruh lho. Jika keilmuan yang
sedang didalami itu linier maksudnya
adalah sejalan, maka keahlian kita dalam bidang tersebut akan semakin matang.
Berbeda halnya dengan cabang ilmu yang berbeda-beda dala setiap strata
pendidikan. Memang pada dasarnya, mempunyai ilmu yan luas, namun itu belum spesifik.
Kita juga butuh yang namanya, kekhususan. Keahlian yang betul-betul ahli dalam
satu bidang. Memang harapanya dengan adanya hal itu, dapat memberikan
kontribusi, maupun solusi yang bersifat akademis, atau kalau saya boleh sebut
yaitu, scientific gitu lah.
Berarti, salah satunya, ketika seorang lulusan
teknik yang sudah bekerja dalam perusahaan beberapa tahun, maka, posisinya-pun
akan naik sesuai dengan pengabdianya. Jika terjadi semacam ini, maka, perlu
sekali seorang (minimal manager) mempunyai keahlian dalam bidang kepemimpinan
serta pengelolaan. Dengan demikian, tidak ada salahnya, jika mengambil jurusan
management. Hal ini juga senada dengan seorang entrepreneur. Mereka juga sangat
layak belajar hal itu. Mau latar belakangnya memang teknik, atau bahkan
keilmuan lainya yang scientific, tetap saja, usaha itu perlu di kelola dengan
baik, serta perencanaan strategy yang tepat pada sasaran.
Meski belum banyak yang saya ketahui tapi arahnya
mulai yakin. Iya, semakin menuju kearah yakin itu. Mengambil strata dua dengan konsentasi pada strategic. Di luar sana,
banyak sekali sekolah yang menyediakan program strategic
Tidak ada komentar:
Posting Komentar