Jumat, 24 Oktober 2014

Sekolah mahal itu relative, iya po?


Baru saja, saya mengikuti sebuah semacam ”presentasi” gitu tentang lembaga pendidikan. Disana (maksudnya: spanduk) tidak dijelaskan lengkap hanya informasi umum saja. Memang, disana tertulis untuk orang tua, serta siswa smp dan sma, atau sederajat. Tapi toh, kalau dari umum juga boleh masuk kok. Nama institusi tersebut memang belum banyak terdengar gaungnya di Yogyakarta (setidaknya menurut saya). Tapi karena dilakukan di sebuah hotel ternama maka, tentunya ini bukan suatu institusi sembarangan.
Sampai di ruang lobby, saya sudah disambut panitia. Mereka ramah lagi. Masuk kedepan baalroom beda lagi. Disana ada mas-mas yang jaga meja pendaftaran. Orangnya terlihat masih muda, dan dia hanya berjaga sendiri. Saat didepan ma situ tadi, saya langsung disodori formulir registrasi. Isinya gak macem-macem kok. Hanya sebatas nama orang tua, nama siswa, alamat ini, alamat itu, bla-bla,blaa. Cukup tiga puluh detik ngisi udah beres. Mana ketika habis ngisi itu formulir, pulpen yang kita pakai boleh di ambil lagi. Biasanya jadi sedikit kebanggaan jika berhasil membawa pulang buah tangan dari acara-acara atau event semacam begini lahh. Fungsinya? Buat keren-kerenan aja.
Masuk di ruang baalroom didepan sudah ada ibu-ibu paruh baya sedang presentasi. Beberapa slide juga bermunculan guna mendukung presentasi yang sedang berlangsung. Nampak beberapa bapak-bapak paruh baya juga, bergantian hilir mudik memastika acara berjalan dengan lancar. Perlengkapan berjalan dengan baik. Semua saling membantu, supaya lancar. Seperti yang sudah saya katakana diatas. Ini adalah institusi pendidikan. Ya, pendidikan semacam boarding gitu buat anak sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Ternyata sekolah ini tidak di Jogja, tapi di Jakarta.
Peserta yang hadir sangat beragam. Kalau dilihat dari tampilan luar. Mereka rata-rata memang orang tua siswa. Ada juga siswa yang ikut disana, mungkin dia bersama orang tuanya. Sedangkan untuk kalangan mahasiswa sendiri yang ”nyasar” diacara itu saya rasa juga ada. Ruang ballroom menjadi sangat serius. Orangtua umumnya menyimak dengan antusias. Sedangkan siswa yang datang juga nampak manggut-manggut saat mendengarkan. Sesekali mereka saling senggol antar siswa itu tadi. Entah apa yang sedang mereka bahas. Yang jelas mereka nampak sudah kenal.
Dijelaskan bahwa biaya pendidikan sekolah disana ”relative” murah. Katanya. Katanya juga biaya pendidikan mahal atau tidak memang relative. Artinya, antara cost yang dikeluarkan dengan benefit yang didapat lebih banyak yang mana? Dengan biaya yang besar namun fasilitas yang sangat bagus tentu ini malah dijadikan sebuah keuntungan. Namun apa iya, biaya yang tadi itu betul-betul tidak mahal? Tidak juga. Pada kenyataanya memang mahal. Namun disisi yang lain ada yang sanggup bayar. Ini yang perlu diperhatikan. Karena memang akan selalu berbanding lurus. Antara cost dan benefit yang didapat. Pendidikan memang bidang industri yang berpeluang strategis. Sangat besar sekali minat masyarakat dalam menyekolahkan anaknya untuk dapat mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Didukung dengan tantangan global yang semakin mengancam. Lahan pekerjaan yang kiat sempit. Persaingan yang semakin ketat. Perolehan gaji yang dirasa selalu kurang karena kehidupan dikota semakin mahal.
Boleh saja pendidikan dikedepankan. Di majukan hingga selangit. Namun tetap yang paling utama adalah ilmu agama yang baik. Denganya maka, kita akan jauh lebih tentram. Karena telah mengetahui panduan untuk menjalani kehidupan didunia. Tenang saja, karena setelah didunia aka nada kehidupan selanjutnya. Kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang akan diperhitungkan semuanya densgan teliti. Semua dibalas dengan apa yang telah di usahakan di dunia dulu. Selanjutnya, baru ilmu dunia yang di pelajari. Supaya juga bisa hidup dan bertahan di dunia (untuk sementara). Demikian.[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar