Baru saja, saya
mengikuti sebuah semacam ”presentasi” gitu tentang lembaga pendidikan. Disana
(maksudnya: spanduk) tidak dijelaskan lengkap hanya informasi umum saja. Memang,
disana tertulis untuk orang tua, serta siswa smp dan sma, atau sederajat. Tapi toh,
kalau dari umum juga boleh masuk kok. Nama institusi tersebut memang belum
banyak terdengar gaungnya di Yogyakarta (setidaknya menurut saya). Tapi karena
dilakukan di sebuah hotel ternama maka, tentunya ini bukan suatu institusi
sembarangan.
Sampai di ruang
lobby, saya sudah disambut panitia. Mereka ramah lagi. Masuk kedepan baalroom beda lagi. Disana ada mas-mas
yang jaga meja pendaftaran. Orangnya terlihat masih muda, dan dia hanya berjaga
sendiri. Saat didepan ma situ tadi, saya langsung disodori formulir registrasi.
Isinya gak macem-macem kok. Hanya sebatas nama orang tua, nama siswa, alamat
ini, alamat itu, bla-bla,blaa. Cukup tiga puluh detik ngisi udah beres. Mana ketika
habis ngisi itu formulir, pulpen yang kita pakai boleh di ambil lagi. Biasanya jadi
sedikit kebanggaan jika berhasil membawa pulang buah tangan dari acara-acara
atau event semacam begini lahh. Fungsinya? Buat keren-kerenan aja.
Masuk di ruang baalroom didepan sudah ada ibu-ibu paruh
baya sedang presentasi. Beberapa slide
juga bermunculan guna mendukung presentasi yang sedang berlangsung. Nampak
beberapa bapak-bapak paruh baya juga, bergantian hilir mudik memastika acara
berjalan dengan lancar. Perlengkapan berjalan dengan baik. Semua saling
membantu, supaya lancar. Seperti yang sudah saya katakana diatas. Ini adalah
institusi pendidikan. Ya, pendidikan semacam boarding gitu buat anak sekolah menengah
pertama dan sekolah menengah atas. Ternyata sekolah ini tidak di Jogja, tapi di
Jakarta.
Peserta yang hadir
sangat beragam. Kalau dilihat dari tampilan luar. Mereka rata-rata memang orang
tua siswa. Ada juga siswa yang ikut disana, mungkin dia bersama orang tuanya. Sedangkan
untuk kalangan mahasiswa sendiri yang ”nyasar” diacara itu saya rasa juga ada. Ruang
ballroom menjadi sangat serius. Orangtua
umumnya menyimak dengan antusias. Sedangkan siswa yang datang juga nampak
manggut-manggut saat mendengarkan. Sesekali mereka saling senggol antar siswa
itu tadi. Entah apa yang sedang mereka bahas. Yang jelas mereka nampak sudah
kenal.
Dijelaskan bahwa
biaya pendidikan sekolah disana ”relative” murah. Katanya. Katanya juga biaya
pendidikan mahal atau tidak memang relative. Artinya, antara cost yang dikeluarkan dengan benefit yang didapat lebih banyak yang
mana? Dengan biaya yang besar namun fasilitas yang sangat bagus tentu ini malah
dijadikan sebuah keuntungan. Namun apa iya, biaya yang tadi itu betul-betul
tidak mahal? Tidak juga. Pada kenyataanya memang mahal. Namun disisi yang lain
ada yang sanggup bayar. Ini yang perlu diperhatikan. Karena memang akan selalu
berbanding lurus. Antara cost dan benefit yang didapat. Pendidikan memang
bidang industri yang berpeluang strategis. Sangat besar sekali minat masyarakat
dalam menyekolahkan anaknya untuk dapat mendapatkan pendidikan yang
berkualitas. Didukung dengan tantangan global yang semakin mengancam. Lahan
pekerjaan yang kiat sempit. Persaingan yang semakin ketat. Perolehan gaji yang
dirasa selalu kurang karena kehidupan dikota semakin mahal.
Boleh saja pendidikan
dikedepankan. Di majukan hingga selangit. Namun tetap yang paling utama adalah
ilmu agama yang baik. Denganya maka, kita akan jauh lebih tentram. Karena telah
mengetahui panduan untuk menjalani kehidupan didunia. Tenang saja, karena
setelah didunia aka nada kehidupan selanjutnya. Kehidupan yang lebih baik. Kehidupan
yang akan diperhitungkan semuanya densgan teliti. Semua dibalas dengan apa yang
telah di usahakan di dunia dulu. Selanjutnya, baru ilmu dunia yang di pelajari.
Supaya juga bisa hidup dan bertahan di dunia (untuk sementara). Demikian.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar