![]() |
| Sumber foto: http:3.bp.blogspot.com |
Bidadari-bidadari
Surga – (2009)
Ikanuri
dan Wibisana adalah dua sigung yang sangat bandel.
Setiap pagi mereka hanya suka bermain. Sering juga mamak mendapati
mereka bolos sekolah. Mereka tidak segan-segan membolos hanya sekali atau dua kali, namun sudah berkali-kali. Kak Laisa sering memarahi mereka. Membentak-bentak supaya dua sigung nakal itu Kerja Keras, KERJA KERAS!!! Ah dua sigung yang masih kanak-kanak itu mengerti apa tentang kerja keras? Duania meraka adalah bermain.
mereka bolos sekolah. Mereka tidak segan-segan membolos hanya sekali atau dua kali, namun sudah berkali-kali. Kak Laisa sering memarahi mereka. Membentak-bentak supaya dua sigung nakal itu Kerja Keras, KERJA KERAS!!! Ah dua sigung yang masih kanak-kanak itu mengerti apa tentang kerja keras? Duania meraka adalah bermain.
Namun
ceritanya lain jika bicara soal Dalimunte. Kakak dua sigung itu berbeda dengan
adiknya. Dalimunte sejak kecil sangat senang dengan membuat sesuatu.
Membongkar-bongkar. Serta memikirkan hal-hal yang tidak difikirkan oleh orang
lain agar menjadi lebih baik. Kalau kalian lihat lima buah kincir kecil yang
saling terhubung dari sungai cadas ke atas kebun warga, Dalimunte-lah yang dulu
mengusulkannya. Waktu itu, dengan ragu-ragu Dalimunte mengusulkan pembuatan
kincir itu pada acara pertemuan desa. Tumpukan kertas-kertas yang tengah ia bawa
dari rumah panggung mereka di perlihatkan kepada warga, berusaha memastikan.
Namun apa daya anak umur dua belas tahun itu, banyak sekali keraguan di hati
warga, karena dahulu babak mereka
sudah berusaha membuatnya, namun hasilnya sia-sia. Disaat yang lain tidak
yakin, meragukan dan bahkan meremehkan ide Dalimunte, Kak Laisa maju. Dengan
keyakinan yang kuat Kak Lais yakin bahwa ide adiknya itu akan berhasil.
Dalimunte telah berusaha keras untuk hal ini. Maka diyakinkanlah warga desa
untuk mencoba membuatnya.
Ketika
pagi masih sangat gelap, Kak laisa dan Yashinta sudah berangkat dari rumah
menuju hutan rimba dekat desa. Sejujurnya Kak Laisa merasa amat menyesal telah
bercerita pada adiknya. Bahwa dua minggu yang lalu ketika Kak Lais sedang
kehutan disuruh mamak mengambil dammar, Kak Laisa melihat lima ekor
berang-berang kecil sedang keluar dari sarangnya. Berang-berang itu berada di
sungai tengah hutan yang airnya tidaklah dalam. Begitu mendengar cerita
kakaknya, mata Yash langsung membulat. Kak Laisa tahu benar arti tatapan itu.
Jika telinga Yash kecil sudah mendengarnya itu juga sebagai perintah untuk
melihat langsung berang-berang tersebut. Maka berangkatlah mereka dari rumah
pagi-pagi, agar ketika mereka kembali dihari agak siang, masih ada waktu untuk berkerja
di ladang.
Sejak
mereka kecil, lima bersaudara itu harus hidup mandiri. Babak mereka meninggal waktu usia mereka masih kecil. Tinggallah
mamak Lainuri seorang yang mengurus dan merawat kelima bersaudara itu. Kak
Laisa, sulung dari lima bersaudara itu paham betul kondisi keluarga mereka.
Maka, dengan tekad yang kuat dengan semangat yang kuat, Kak Laisa percaya bahwa
adik-adiknya pantas mendapatkan masa depan yang lebih baik. Semenjak itu, Kak
Laisa rela mengorbankan masa remajanya. Kak Laisa rela berhenti sekolah agar
adik-adiknya dapat bersekolah. Membantu mamak di lading, mencari dammar, hingga
menganyam bamboo untuk dijual di pasar. Itu semua dilakuakan Kak Laisa dan
Mamak Lainuri setiap hari.
Kebun
strawberry Kak Lais berkembang dengan baik. Malahan sekarang berkembang dengan
pesat di Kecamatan. Yash kecil dan ketiga kakaknya tumbuh dengan baik.
Satu-persatu mereka mulai bersekolah di kecamatan dan kemudian meneruskannya di
kebupaten. Yash kecil juga tidak kalah dengan kakak-kakaknya. Dia tumbuh menjadi
anak cerdas dan rajin. Mewarisi watak Dalimunte, kakaknya. Masalah kembali
muncul dikeluarga itu saat Kak Laisa, sulung dari lima bersaudara itu tidak
kunjung mendapatkan jodoh dan menikah. Banyak warga desa yang membicarakan Kak
Laisa, tentang desas desus, dan suara-suara itu. Beberapa laki-laki ada yang
mendekat namun semuanya, mundur secara teratur. Banyak dari mereka hanya memperhatikan
penampilan fisik belaka. Dalimunte telah memiliki pendidikan yang baik, serta
pekerjaan yang mapan. Namun, Dali tidak sampai hati kalau harus melangkahi Kak Laisa. Begitu juga dengan
dua sigung itu, mereka telah sukses dan mempunyai bengkel modifikasi mobil di
kecamatan. Namun mereka juga tidak ingin melangkahi
Kak Laisa.
Kak Laisa yang mengerti keadaan ini mencoba meyakinkan adik-adiknya. Begitu juga dengan Yashinta yang sekarang sudah beranjak dewasa. Mereka mengerti betul nasihat Kak Laisa. Namun apa yang selanjutnya terjadi? Apakah Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta akan benar-benar menikah? Apakah mereka benar-benar akan melangkahi Kak Lais? Apakah memang benar Kak Laisa tidak menikah sepanjang hidupnya? Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut, simak novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye ini, demikian.[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar