Senin, 22 Desember 2014

Laisa dari lembah Lahambay

Sumber foto: http:3.bp.blogspot.com


Bidadari-bidadari Surga – (2009)


Ikanuri dan Wibisana adalah dua sigung yang sangat bandel. Setiap pagi mereka hanya suka bermain. Sering juga mamak mendapati
mereka bolos sekolah. Mereka tidak segan-segan membolos hanya sekali atau dua kali, namun sudah berkali-kali. Kak Laisa sering memarahi mereka. Membentak-bentak supaya dua sigung nakal itu Kerja Keras, KERJA KERAS!!! Ah dua sigung yang masih kanak-kanak itu mengerti apa tentang kerja keras? Duania meraka adalah bermain.
Namun ceritanya lain jika bicara soal Dalimunte. Kakak dua sigung itu berbeda dengan adiknya. Dalimunte sejak kecil sangat senang dengan membuat sesuatu. Membongkar-bongkar. Serta memikirkan hal-hal yang tidak difikirkan oleh orang lain agar menjadi lebih baik. Kalau kalian lihat lima buah kincir kecil yang saling terhubung dari sungai cadas ke atas kebun warga, Dalimunte-lah yang dulu mengusulkannya. Waktu itu, dengan ragu-ragu Dalimunte mengusulkan pembuatan kincir itu pada acara pertemuan desa. Tumpukan kertas-kertas yang tengah ia bawa dari rumah panggung mereka di perlihatkan kepada warga, berusaha memastikan. Namun apa daya anak umur dua belas tahun itu, banyak sekali keraguan di hati warga, karena dahulu babak mereka sudah berusaha membuatnya, namun hasilnya sia-sia. Disaat yang lain tidak yakin, meragukan dan bahkan meremehkan ide Dalimunte, Kak Laisa maju. Dengan keyakinan yang kuat Kak Lais yakin bahwa ide adiknya itu akan berhasil. Dalimunte telah berusaha keras untuk hal ini. Maka diyakinkanlah warga desa untuk mencoba membuatnya.
Ketika pagi masih sangat gelap, Kak laisa dan Yashinta sudah berangkat dari rumah menuju hutan rimba dekat desa. Sejujurnya Kak Laisa merasa amat menyesal telah bercerita pada adiknya. Bahwa dua minggu yang lalu ketika Kak Lais sedang kehutan disuruh mamak mengambil dammar, Kak Laisa melihat lima ekor berang-berang kecil sedang keluar dari sarangnya. Berang-berang itu berada di sungai tengah hutan yang airnya tidaklah dalam. Begitu mendengar cerita kakaknya, mata Yash langsung membulat. Kak Laisa tahu benar arti tatapan itu. Jika telinga Yash kecil sudah mendengarnya itu juga sebagai perintah untuk melihat langsung berang-berang tersebut. Maka berangkatlah mereka dari rumah pagi-pagi, agar ketika mereka kembali dihari agak siang, masih ada waktu untuk berkerja di ladang.
Sejak mereka kecil, lima bersaudara itu harus hidup mandiri. Babak mereka meninggal waktu usia mereka masih kecil. Tinggallah mamak Lainuri seorang yang mengurus dan merawat kelima bersaudara itu. Kak Laisa, sulung dari lima bersaudara itu paham betul kondisi keluarga mereka. Maka, dengan tekad yang kuat dengan semangat yang kuat, Kak Laisa percaya bahwa adik-adiknya pantas mendapatkan masa depan yang lebih baik. Semenjak itu, Kak Laisa rela mengorbankan masa remajanya. Kak Laisa rela berhenti sekolah agar adik-adiknya dapat bersekolah. Membantu mamak di lading, mencari dammar, hingga menganyam bamboo untuk dijual di pasar. Itu semua dilakuakan Kak Laisa dan Mamak Lainuri setiap hari.
Kebun strawberry Kak Lais berkembang dengan baik. Malahan sekarang berkembang dengan pesat di Kecamatan. Yash kecil dan ketiga kakaknya tumbuh dengan baik. Satu-persatu mereka mulai bersekolah di kecamatan dan kemudian meneruskannya di kebupaten. Yash kecil juga tidak kalah dengan kakak-kakaknya. Dia tumbuh menjadi anak cerdas dan rajin. Mewarisi watak Dalimunte, kakaknya. Masalah kembali muncul dikeluarga itu saat Kak Laisa, sulung dari lima bersaudara itu tidak kunjung mendapatkan jodoh dan menikah. Banyak warga desa yang membicarakan Kak Laisa, tentang desas desus, dan suara-suara itu. Beberapa laki-laki ada yang mendekat namun semuanya, mundur secara teratur. Banyak dari mereka hanya memperhatikan penampilan fisik belaka. Dalimunte telah memiliki pendidikan yang baik, serta pekerjaan yang mapan. Namun, Dali tidak sampai hati kalau harus melangkahi Kak Laisa. Begitu juga dengan dua sigung itu, mereka telah sukses dan mempunyai bengkel modifikasi mobil di kecamatan. Namun mereka juga tidak ingin melangkahi Kak Laisa.
Kak Laisa yang mengerti keadaan ini mencoba meyakinkan adik-adiknya. Begitu juga dengan Yashinta yang sekarang sudah beranjak dewasa. Mereka mengerti betul nasihat Kak Laisa. Namun apa yang selanjutnya terjadi? Apakah Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta akan benar-benar menikah? Apakah mereka benar-benar akan melangkahi Kak Lais? Apakah memang benar Kak Laisa tidak menikah sepanjang hidupnya? Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut, simak novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye ini, demikian.[] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar