Di rubrik kreatif kali ini kita akan
membahas sebuah proses kreatif dalam tayangan televise. Sudah sejak lama
sekali, saya
sendiri lupa tepatnya di salah satu stasiun teve nasional kita
sudah ada beberapa acara import. Dari dulu sejak awal saya ketahui di teve
tersebut ada acara benteng-bentengan. Acara game show tersebut di laksanakan di
luar ruangan. Mengambil tempat di lahan yang luas dan di kreasikan menjadi
berbagai wahana permainan. Permainan ini bersifat individu dan menggunakan system
gugur. Kalau kalah atau gagal pada segment tertentu maka, gugurlah sudah
harapanya untuk masuk ke babak selanjutnya.
Mengambil setting tempat di negri
Jepang, lokasi permainan itu juga berada di negri sakura tersebut. Pun begitu
dengan pemain yang ada disana berasal dari negri Jepang pula. Semula saat
pertama kali melihat game ini saya sangat antusias. Betapa tidak, banyak sekali
adegan-adegan konyol yang dilakukan peserta, entah sengaja ataupun tidak. Apalagi
di tambah setelah mereka melewati satu tantangan maka, beberapa orang yang
beruntung akan di wawancarai oleh pembawa acara teve tersebut.
Sekarang acara dari negri Sakura itu
juga kembali masuk ke teve nasional kita. Lihat saja, acara masak-masak yang
ditayangkan pada sore hari itu. Secara konsisten stasiun teve tersebut selalu
menyiarkan dengan frekuensi yang sangat intens. Jujur saja, saat menonton acara
tersebut ada rasa kekaguman atas Jepang yang begitu focus mengerjakan promosi sector
kuliner mereka. Yang saya tahu semula adalah kompetisi chef-chef terkenal yang
beradu kepiawaian dalam hal memasak. Mereka berlomba memasak suatu menu yang
sudah ditetapkan oleh panitia. Kemudian, mereka memilih sendiri bahan-bahan
makanan yang akan dipergunakan di tempat semacam”gudang” tersebut. Uniknya yang
menjadi juri dalam kompetisi ini adalah tidak selalu kritikus makanan atau Chef
juga. Sesekali waktu malahan Chef
dari ajang lomba ini adalah anak-anak. Mereka hanya diminta untuk melakukan
penilaian simple. Jka mereka suka, maka bilang suka. Jika mereka tidak suka,
maka yang terjadi adalah sebaliknya.
Sesederhana itu. Namanya juga anak-anak.
Bisa jadi karena banyak dari mereka lebih mengedepankan masalah tampilah, jadi
tidak heran kalo makanan yang jurinya anak-anak banyak di desain dengan banyak
warna dan dibentuk dengan sangat unik. Bisa juga penilaian mereka terdistorsi
akibat pengaruh dari rekan-rekan seusia mereka. Jika banyak yang mengambil keu
ijo, bisa sangat mungkin kue ijo yang menag. Padahal dari segi rasa kue merah
lebih enak rasanya.
Kemudian lebih asyik lagi adalah acara
serupa yang masih membahas makanan namun kali ini adalah tantangan untuk
menghabiskan beberapa makanan sekaligus. Dalam lomba ini, biasanya yang menag
adalah yang paling (cepat dan banyak) dalam menghabiskan makanan. Di perlombaan
jenis ini juga selalu ramai oleh kontestan. Mereka mengosongkan perut hanya
kemudian untuk diisi dengan makanan-makanan itu.
Yang selanjutnya tidak kalah seru. Ada lomba
menebak kedai makanan. Maklum saja, di Jepang ada banyak sekali kedai makanan
yang berjejer di masing-masing kota. Karena salah satu ikon makanan khas Jepang
adalah Sushi maka di perlombaan ini
menggunakan sushi sebagai object permainannya. Mereka yang bermain disana juga
tidaklah sembarang orang. Mereka adalah orang-orang yang menaruh perhatian
khusus pada makanan yang satu ini. Saking seriusnya tentang sushi ini bahkan
ada juga lho ulasan kedai sushi di surat kabat local. Betapa sangat seriusnya
mereka dalam menangani makanan ini.
Nah…. Menurut saya ini hal yang patut
kita coba. Kita juga bisa menaruh perhatian besar pada makanan local. Lebih tepatnya
adalah mengkonsumsi dan juga memasarkan sendiri. Secara tidak langsung kalau
kita mamakai itu juga sebagai sarana untuk self
promotion ke public. Sehingga apabila self promotion ini dilakukan dengan
berulang-ulang maka, akan muncul brand
di kalangan masyarakat. Sebagai contoh kita punya hidangan kuliner khas
Indonesia. Katakanlah saya ambil contoh nasi kucing. Bisa tuh dengan nasi kucing
tersebut kita makan setiap hari. Mereka yang notabe makan makanan ini adalah
kalangan mahasiswa maka timbullah pelabelan bahwa makanan khas mahasiswa adalah
nasi kucing. Hal ini saya lepaskan dari sisi budget mereka. Dalam kasus ini
yang saya maksud adalah masalah kecintaan. Mahasiswa kenapa sangat menyukai
nasi kucing ternyata bukan semata-mata karena rasa atau harganya. Namun lebih
pada tempat makan itu sendiri. Nasi kucing yang selalu di sajikan dalam warung
grobag (misalnya angkringan) menjadi tempat makan dan juga tempat yang nyaman
untuk berkumpul. Suasana yang hangat dapat dengan mudah tercipta disana. Menghilangkan
leleh dan jenuh seharian berkerja dan beraktifitas di kampus, disaat malam hari
berkumpul dan makan nasi kucing menjadi pilihan.
Kita ambil contoh lagi. Dengan pemahan
yang berbeda. Kali ini kita akan membahas masalah innovasi. Misalnya Rendang. Di
Indonesia makanan ini sudah sangat popular sekali. Banyak yang menyukai
rasanya. Coba bayangkan! Jika kita kumpulkan warung makan yang ada di Indonesia
ada berapa jumlahnya? Apalagi jika dibuat assosiasi pedagang rumah makan
padang, keren tuh. Nahh…. Karena banyak sekali warung makan padang, bisa tuh
masing-masing dari mereka membuat innovasi. Misalnya dibagian rasa. Secara sederhana
kita bisa membuat rasa dengan dengan tingkat kepedasan level-levelan. Kayak level
3, level 5, level 10 gitu. Nah ini baru unik, pembeli bisa memilih mau makan
dengan rending dengan rending level pedas mana. Atau juga bisa dalam hal
tampilan. Misalnya rendang kita sulap bentuknya seperti baso, jadi bulat. Ini bisa
jadi asyik nih. Katakanlah di tiap Provinsi saja ada lima warung makan padang,
maka di Indonesia sudah ada 165 warung makan padang. Dan saya yakin dalam
konteks sebenarnya pasti lebih banyak.
Jadi sudah kelihatan kan, kita bisa
bikin kuis lewat sana. Kita mainkan tebak-tebakan nama warung makan padang. Kita
sebutkan cirri khas, contoh hidangan, atau juga bisa lokasi warung. Jika menang
gratis sebulan makan di warung padang. Tentunya ini akan sangat menjual jika
kita tayangkan di negri tetangga. Katakanlah Singapura. Kalo ini tayangan bisa
lolos kesana, warung padang yang muncul di teve itu bisa jadi serbuan turis
kan? Karena mereka tahu dari tayangan tadi. Itu baru di Singapura. Kalu ternyata
acara tersebut juga tayang di Malaysia, Thailand, bahkan Jepang dan juga
negara-negara Amerika dan Eropa? Wah bisa repot juga itu warung padang di
datengin para bule terus-terusan. Secara rendang memang sudah terkenal di
kancah Nasional. Jadi setiap telinga turis akan mudah mengenalinya.
Marilah kita secara aktif belajar dan berkerja, salam kreatif.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar