Selasa, 23 Desember 2014

Reality show – (Quis Game)


Di rubrik kreatif kali ini kita akan membahas sebuah proses kreatif dalam tayangan televise. Sudah sejak lama sekali, saya
sendiri lupa tepatnya di salah satu stasiun teve nasional kita sudah ada beberapa acara import. Dari dulu sejak awal saya ketahui di teve tersebut ada acara benteng-bentengan. Acara game show tersebut di laksanakan di luar ruangan. Mengambil tempat di lahan yang luas dan di kreasikan menjadi berbagai wahana permainan. Permainan ini bersifat individu dan menggunakan system gugur. Kalau kalah atau gagal pada segment tertentu maka, gugurlah sudah harapanya untuk masuk ke babak selanjutnya.

Mengambil setting tempat di negri Jepang, lokasi permainan itu juga berada di negri sakura tersebut. Pun begitu dengan pemain yang ada disana berasal dari negri Jepang pula. Semula saat pertama kali melihat game ini saya sangat antusias. Betapa tidak, banyak sekali adegan-adegan konyol yang dilakukan peserta, entah sengaja ataupun tidak. Apalagi di tambah setelah mereka melewati satu tantangan maka, beberapa orang yang beruntung akan di wawancarai oleh pembawa acara teve tersebut.

Sekarang acara dari negri Sakura itu juga kembali masuk ke teve nasional kita. Lihat saja, acara masak-masak yang ditayangkan pada sore hari itu. Secara konsisten stasiun teve tersebut selalu menyiarkan dengan frekuensi yang sangat intens. Jujur saja, saat menonton acara tersebut ada rasa kekaguman atas Jepang yang begitu focus mengerjakan promosi sector kuliner mereka. Yang saya tahu semula adalah kompetisi chef-chef terkenal yang beradu kepiawaian dalam hal memasak. Mereka berlomba memasak suatu menu yang sudah ditetapkan oleh panitia. Kemudian, mereka memilih sendiri bahan-bahan makanan yang akan dipergunakan di tempat semacam”gudang” tersebut. Uniknya yang menjadi juri dalam kompetisi ini adalah tidak selalu kritikus makanan atau Chef juga. Sesekali waktu malahan Chef dari ajang lomba ini adalah anak-anak. Mereka hanya diminta untuk melakukan penilaian simple. Jka mereka suka, maka bilang suka. Jika mereka tidak suka, maka yang terjadi adalah sebaliknya.

Sesederhana itu. Namanya juga anak-anak. Bisa jadi karena banyak dari mereka lebih mengedepankan masalah tampilah, jadi tidak heran kalo makanan yang jurinya anak-anak banyak di desain dengan banyak warna dan dibentuk dengan sangat unik. Bisa juga penilaian mereka terdistorsi akibat pengaruh dari rekan-rekan seusia mereka. Jika banyak yang mengambil keu ijo, bisa sangat mungkin kue ijo yang menag. Padahal dari segi rasa kue merah lebih enak rasanya.

Kemudian lebih asyik lagi adalah acara serupa yang masih membahas makanan namun kali ini adalah tantangan untuk menghabiskan beberapa makanan sekaligus. Dalam lomba ini, biasanya yang menag adalah yang paling (cepat dan banyak) dalam menghabiskan makanan. Di perlombaan jenis ini juga selalu ramai oleh kontestan. Mereka mengosongkan perut hanya kemudian untuk diisi dengan makanan-makanan itu.

Yang selanjutnya tidak kalah seru. Ada lomba menebak kedai makanan. Maklum saja, di Jepang ada banyak sekali kedai makanan yang berjejer di masing-masing kota. Karena salah satu ikon makanan khas Jepang adalah Sushi maka di perlombaan ini menggunakan sushi sebagai object permainannya. Mereka yang bermain disana juga tidaklah sembarang orang. Mereka adalah orang-orang yang menaruh perhatian khusus pada makanan yang satu ini. Saking seriusnya tentang sushi ini bahkan ada juga lho ulasan kedai sushi di surat kabat local. Betapa sangat seriusnya mereka dalam menangani makanan ini.

Nah…. Menurut saya ini hal yang patut kita coba. Kita juga bisa menaruh perhatian besar pada makanan local. Lebih tepatnya adalah mengkonsumsi dan juga memasarkan sendiri. Secara tidak langsung kalau kita mamakai itu juga sebagai sarana untuk self promotion ke public. Sehingga apabila self promotion ini dilakukan dengan berulang-ulang maka, akan muncul brand di kalangan masyarakat. Sebagai contoh kita punya hidangan kuliner khas Indonesia. Katakanlah saya ambil contoh nasi kucing. Bisa tuh dengan nasi kucing tersebut kita makan setiap hari. Mereka yang notabe makan makanan ini adalah kalangan mahasiswa maka timbullah pelabelan bahwa makanan khas mahasiswa adalah nasi kucing. Hal ini saya lepaskan dari sisi budget mereka. Dalam kasus ini yang saya maksud adalah masalah kecintaan. Mahasiswa kenapa sangat menyukai nasi kucing ternyata bukan semata-mata karena rasa atau harganya. Namun lebih pada tempat makan itu sendiri. Nasi kucing yang selalu di sajikan dalam warung grobag (misalnya angkringan) menjadi tempat makan dan juga tempat yang nyaman untuk berkumpul. Suasana yang hangat dapat dengan mudah tercipta disana. Menghilangkan leleh dan jenuh seharian berkerja dan beraktifitas di kampus, disaat malam hari berkumpul dan makan nasi kucing menjadi pilihan.

Kita ambil contoh lagi. Dengan pemahan yang berbeda. Kali ini kita akan membahas masalah innovasi. Misalnya Rendang. Di Indonesia makanan ini sudah sangat popular sekali. Banyak yang menyukai rasanya. Coba bayangkan! Jika kita kumpulkan warung makan yang ada di Indonesia ada berapa jumlahnya? Apalagi jika dibuat assosiasi pedagang rumah makan padang, keren tuh. Nahh…. Karena banyak sekali warung makan padang, bisa tuh masing-masing dari mereka membuat innovasi. Misalnya dibagian rasa. Secara sederhana kita bisa membuat rasa dengan dengan tingkat kepedasan level-levelan. Kayak level 3, level 5, level 10 gitu. Nah ini baru unik, pembeli bisa memilih mau makan dengan rending dengan rending level pedas mana. Atau juga bisa dalam hal tampilan. Misalnya rendang kita sulap bentuknya seperti baso, jadi bulat. Ini bisa jadi asyik nih. Katakanlah di tiap Provinsi saja ada lima warung makan padang, maka di Indonesia sudah ada 165 warung makan padang. Dan saya yakin dalam konteks sebenarnya pasti lebih banyak.

Jadi sudah kelihatan kan, kita bisa bikin kuis lewat sana. Kita mainkan tebak-tebakan nama warung makan padang. Kita sebutkan cirri khas, contoh hidangan, atau juga bisa lokasi warung. Jika menang gratis sebulan makan di warung padang. Tentunya ini akan sangat menjual jika kita tayangkan di negri tetangga. Katakanlah Singapura. Kalo ini tayangan bisa lolos kesana, warung padang yang muncul di teve itu bisa jadi serbuan turis kan? Karena mereka tahu dari tayangan tadi. Itu baru di Singapura. Kalu ternyata acara tersebut juga tayang di Malaysia, Thailand, bahkan Jepang dan juga negara-negara Amerika dan Eropa? Wah bisa repot juga itu warung padang di datengin para bule terus-terusan. Secara rendang memang sudah terkenal di kancah Nasional. Jadi setiap telinga turis akan mudah mengenalinya.
 
Marilah kita secara aktif belajar dan berkerja, salam kreatif.[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar